Desa Kedokanbunder terletak di Wilayah Pemerintahan Kabupaten Indramayu. Berada di daerah perbatasan antara Indramayu dan Cirebon. Memiliki Luas wilayah 517,9 ha. Penduduk umumnya bermata pencaharian sebagai Petani dan Buruh tani, namun banyak juga sebagai Pegawai Negeri Sipil, Pegawai Swasta, Pedagang, dan lain-lain.
Bahasa penduduk yang digunakan sehari-hari adalah Bahasa Jawa yang mempunyai kesamaan dialek dengan bahasa Jawa Cirebon. Mempunyai masjid besar bernama Masjid Jami Nurul Mukhlisin dan merupakan Ibukota dari Kecamatan Kedokanbunder yang membawai wilayah 7 desa.
BABAD HUTAN LEBAK SUNGSANG DESA
KEDOKANBUNDER
Al kisah
berangkat dari cerita kanjeng Sunan Gunung Jati dengan istrinya Nyi Mas Ratu
Ayu Kawunganten sedang bermusyawarah memikirkan mimipi dan bisikan Ghoib, yang
pada intinya disuruh membuka pedukuhan di Hutan Lebak Sungsang (Jawa : Alas
Lebak Sungsang). Maka Sunan Gunung Jati memanggil Pangeran Pager Toya dan
mertuanya Ramanda Tubagus Warida dan pamannya Tubagus Arsitem beserta Anaknya
Ratu Winaon, Sultan Hasanuddin dan para pengawalnya sebanyak 60 orang untuk
mengiring keberangkatan istrinya Sunan Gunung Jati (Nyi Mas Ratu Ayu
Kawunganten) menuju Wilayah Hutan Lebak Sungsang (Alas Lebak Sungsang).
Sunan Gunung
Jati merestui atas keberangkatannya dengan mengendarai dua kapal layar besar.
Singkat cerita, rombongan Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten tiba di diwilayah Muara
Ciasem dengan tujuan mencari perbekalan dan air minum, serta menanyakan
keberadaan wilayah Hutan Lebak Sungsang. Akan tapi di daerah Ciasem tidak ada
seorangpun yang tahu keberadaan Hutan Lebak Sungsang maka rombongan Nyi Mas
Ratu Ayu Kawunganten melanjutkan perjalananya dengan berlayar menuju ke Wilayah
Cirebon. Di tengah perjalanan rombongan Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten singgah di
sebuah pulau yang bernama Pulau Gosong, di situ terdapat seorang kakek-kakek
yang sedang menjemur rebon (udang kecil) dan terdapat sebuah Candi setelah
didekati. Pangeran Pager Toya bertanya kepada Kakek itu dan beliau menyebutkan
nama yaitu Ki Kriyan. Karena Ki Kriyan menghuni pulau tersbut maka Candi yang
ada dipulau Gosong itu dinamanakan Candi Kriyan. Setelah mengetahui keberadaan
pulau tersebut Pangeran Pager Toya menanyakan keberadaan wilayah Hutan Lebak
Sungsang. Maka Ki Kriyan menjawab “Hutan Lebak Sungsang ada di bekas aliran
Bengawan Cigalaga Sangyang Kendit” Kata Ki Kriyan berlayarlah menuju tegalan
panjang dan luas.
Setelah
mendapat petunjuk dari seorang kakek penghuni pulau Gosong maka rombongan Nyi
Mas Ratu ayu Kawunganten melanjutkan perjalannya menuju tegalan yang panjang
dan luas. Sesampainya di tegalan tersebut maka rombongan melanjutkan perjalanan
dengan berjalan kaki menelusuri bekas bengawan Cigalaga menuju Hutan Lebak
Sungsang. Tegalan panjang dan luas tersebut sekarang menjadi sebuah Desa di
pinggiran laut yang bernama Desa Tegalagung.
Rombongan
berjalan ke barat menuju bekas aliran Bengawan Cigalaga. Setelah menelusuri ke
arah barat dari tegalan panjang dan luas maka sampailah di bekas aliran
bengawan Cigalaga yang masih banyak airnya dan pohon-pohon yang besar serta
tanahnya rendah, berbukit dan masih banyak binatang buas yang minum dan mandi
disitu. Maka Nyi Mas Ratu Kawunganten mencari tanah yang lebih tinggi untuk
membangun gubuk untuk beristirahat para pengikutnya. Setelah beristirahat
beberapa hari mulailah para pengikut dan pengawalnya membabad (menebang)
pohon-pohon yang besar yang ada di wilayah hutan Lebak sungsang pada tahun
1497. Satu pohon ditebang oleh 10 orang dalam sehari tidak bisa tumbang karena
sangat besarnya pohon tersebut.
Hampir satu
bulan pengikut dan pengawal membabad (menebang) hutan lebak sungsang baru bisa
membentuk lahan beberapa puluh meter, belum lagi anak buahnya beliau banyak
yang mati dan luka diterkam binatang buas. Belum lagi harus bertempur dengan
penghuni hutan tersebut yaitu dua makhluk siluman yang bernama Dewa Arus dan
Dewi Santi yang berwujud seekor ular Raksasa maka Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten
bertafakur (bersemedi) kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberi kemudahan dalam
membabad (menebang) Hutan Lebak Sungsang tersebut.
Dalam
tafakumya (semedi) ada suara tanpa rupa (bisikan Ghoib) yang memerintahkan agar
Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten menanjabkan Tusuk Kondenya (Kancing Gelung) pada
sebatang kayu bebsar yang telah roboh. Berkat kemurahan Tuhan yang Maha Esa
maka terbakarlah pohon besar itu. Nyala api yang membungbung membakar seluruh
Hutan Lebak Sungsang, semua hewan berlarian dan tidak sedikti yang mati
terbakar serta banyak hutan-hutan di daerah lain yang ikut terbakar,
diantaranya sekarang disebut Desa Jambe, Desa Bulak, Desa Tugu dan Desa Eretan.
itu hasil pembakaran hutan hutan lebak sungsang yang apinya berterbangan.
Dalam kurun
waktu satu tahun semua hutan pohon-Pohon yang besar sudah rata dengan tanah.
Selesai membakar dan mebabad hutan tersebut maka dipanggilnya paman Nyi Mas
Ratu Ayu Kawunganten yaitu Tubagus Arsitem dan 10 orang pengikutnya untuk
melaporkan kepada suaminya (Syech Sarif Hidayatullah) bahwa tugasnya telah
selesai untuk membuka pedukuhan baru di wilayah hutan Lebak sungsang dan
dimohon Sunan Bonang untuk ikut menyaksikan daerah yang baru dibuka itu. Sunan
Bonang bersedia datang di pedukuhan lebak sungsang ikut dengan rombongan Mbah
Kuwu Sangkan Cirebon dan Sunan Kali Jaga. Sesampainya rombongan di Pedukuhan
Lebak Sungsang, Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten merasa seneng kurang bunga
(gembira tapi merasa sedih). Karena kedatangan rombongan tidak beserta
suaminya, dikarenakan suaminya memenuhi undangan Sultan Mesir. Sunan Bonang
merasa bangga atas kegigihan dan kesaktian beliau dengan Pusaka Tusuk Konde
yang bisa mengeluarkan api dan membakar semua hutan yang ada disekelilingnya.
Sebagai tanda jasanya (penghargaan) Sunan Bonang memeberikan gelar kepada Nyi
Mas Ratu Ayu Kawunganten dengan sebutan RATU SUNEU (bahasa Indonesia : Ratu
Api). Atas saran Mbah Kuwu Cirebon untuk segera membangun gubug yang besar
untuk tempat kediamanya dan anak-anaknya serta pengikutnya.
Maka
dibangunlah 4 gubug besar.
1. Untuk Nyi
Mas R.A Kawunagnten dan keluarganya
2. Untuk
Mbah Kuwu sangkan dan Pager Toya
3. Untuk
Ayah dan Pamannya
4. Untuk
pengawal dan pengikutnya
Selang
beberapa bulan beliau meminta agar segera ditetapkan daerah yang telah di buka
menjadi pedukuhan untuk diberi patok (batas). Maka berangkatlah Ki Kuwu
Sangkan, Sunan Bonang dan Pangeran Pager Toya menuju batas wilayah Lebak
Sungsang. Ki Kuwu Sangkan berjalan menujuh arah selatan dan Pangeran Pager Toya
mengambil arah ke utara sedangkan Sunan Bonang meninjau bekas-bekas hutan yang
terbakar di daerah lain.
Setelah
selesai mengelilingi dan memberi batas-batas (patok) wilayah Lebak Sungsang,
Pangeran Pager Toya beristirahat di bawah pohon kedawung dekat dengan gubug Nyi
Mas Ratu Ayu Kawunganten sekitar seratur meter sebelah barat dan beliau
mengubur ikat kepalanya di bawa pohon kedawung itu (sekarang disebut petilasan
Ki Dawung yang masih di anggap keramat). Sedangkan Ki Kuwu Sangkan setelah
selesai mengadakan pemberian batas (patok) beristirahatlah di barongan pring
(pohon bambu) yang sangat banyak yang di sekelilingnya ditumbuhi pohon pandan
dan Ki Kuwu Sangkan duduk di atas sebuah batu.
Untuk
mengenang jasa Ki Kuwu Sangkan maka tempat duduk tesebut dikubur dan dinamakan
Petilasan Ki Sela Pandan (batu pandan) yang masih dianggap keramat sampai
sekarang (tepatnya berada di sebelah selatan lapang bola Kedokanbunder) dalam
mengelilingi batas-batas pedukuhan tersebut.
Pada tahun
1499 dan inilah yang menjadi dasar Hari Jadi Desa Kedokanbunder. Setiap
tahunnya di adakan ider bumi (keliling tanah), setelah mengadakan ider bumi
para penduduk mengadakan syukuran dengan menyediakan makanan dan hasil bumi
(Wulu Wetu = Sansekerta) berupa beras, jagung, kacang-kacangan dan buah-buahan
yang disebut sedekah bumi yang terus dilestarikan dan dilaksanakan setiap tahun
di bulan Surah tanggal 14. sampai sekarang masih tetap diadakan sedekah bumi setiap
tahunnya.
Setelah itu
Ki Kuwu Sangkan dan Pangeran Pager Toga juag Sunan Bonang pulang kembali ke
Cirebon. Sedangkan yang masih tinggal dipedukuhan Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten
adalah Ratu Winaon, Sultan Hasanuddin, Tubagus Warida dan Tubagus Aritem serta
40 orang pengikutnya. Banyak orang yang berdatangan ke Padukuhuan Lebak
Sungsang. Kebanyakan orang yang datang ingin bercocok tanam dan mendirikan
gubug sebagai tempat bermukim. Namun ada persyaratan yang harus dipenuhi yaitu
syaratnya harus memeluk agama Islam.
Orang-orang
yang datang ke Padukuhan Lebak Sungsang dari berbagai daerah diantaranya dari
cirebon, keturunan arab, keturunan India, keturunan Cina, bawean karimun jawa
dari bagelen dan juga dari Demak. Setelah banyak orang yang berdatangan, Pedukuhan
Lebak Sungsang dilanda kekeringan, Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten sangat
perihatin dan sedih hatinya melihat penduduk kekurangan air. Segala reka daya
(usaha) belum juga membuahkan berhasil untuk menanggulangi kekeringan yang
melanda Padukuhan Lebak Sungsang.
Bukan hanya
tanaman yang menjadi korban keganasan kekeringan itu bahkan sampai binatang dan
jiwa manusia pun tidak sedikit yang menjadi korban kekeringan tersebut. Maka
beliau bersama sanak saudaranya, bapak dan pamannya tetap tabah dan berdoa kepada
Allah SWT. Dalam doanya beliau mendapat bisikan ghoib agar menancapkan tusuk
kondenya (kancing gelung) ke tanah yang lebih rendah maka ditancapkannya pusaka
beliau dengan ijin Tuhan, maka keluarlah air yang sangat deras (sumber air).
Karena
sangat derasnya air longsorlah tanah disekitarnya. Untuk menahan sumber air
tersebut jangan sampai tertutup kembali maka dipasanglah tembok penahan longsor
dengan menggunakan balok-balok kayu yang besar. Amanat Nyi Mas Ratu Ayu
Kawunganten kepada rakyatnya agar sumber air tadi dijaga dan dilestarikan agar
anak cucunya tidak lagi kekurangan air, sumber air tersebut diberi nama dengan
sebutan SUMUR GEDE (sampai sekarang masih terawat dan masih dikeramatkan). Air
tersebut oleh penduduk Lebak Sungsang dimanfaatkan untuk minum, berwudhu, mandi
dan keperluan cocok tanam. Kesaktian belaiu sangat termasyur (terkenal) sampai
ke Negeri Campa dan banyak negara-negara lain yang ingin mengayoni (mengukur)
kehebatan beliau.
Maka pada
suatu hari datanglah seorang Putra Raja Campa yang bernarna JIOU PHAK dan dua
orang pengawalnya JIAU GO dan Qi Pa Lhiang serta 40 orang prajuritnya yang
bertujuan untuk meminang beliau, tapi beliau menolak karena sudah mempunyai
suami. Putra Campa tetap memaksa kehendaknya untuk meminangnya namun Nyi Mas
Ratu Ayu Kawunganten tetap pada pendirian, maka terjadila peperangan dan uji
kesaktian antara Jiou Phak dan Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten.
Dalam
perkelahian tersebut Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten hampir terkalahkan baik
kekuatan tenaga dan kesaktianya oleh Putra Campa tersebut. Ki Kuwu Sangkan
mengetahui bahwa di Pedukuhan Lebak Sungsang tengah terjadi peperangan antara
Putra Raja Campa seprajuritnya dan Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten, pengawal dan
pengikutnya maka Ki Kuwu Sangkan datang Ke Pedukuhan Lebak Sungsang dan memberikan
Golok Cabang kepada Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten. Golok Cabang lalu disabetkan
ke tanah oleh beliau maka Jiou Phak langsung terjatuh terduduk (Jawa = Kedodok)
dan sekarat. Bekas sekaratnya itu sampai bundar (jawa = bunder). Untuk mengenang
pertempuran Putra Campa yang kalah terduduk bundar akhirnya tempat itu
dinamakan KEDOKANBUNDER (Asal kata terduduk=Kedodok dan Bundar=Bunder). Yang
pada semula namanya Pendukuhan Lebak Sungsang akhirnya diganti menjadi
KEDOKANBUNDER.
Dalam
peperangan itu Putra Campa sampai dengan menghembuskan nafas terakhirnya dan
dikuburkan di tanah yang agak tinggi yang sampai sekarang masih bisa kita lihat
kuburannya di sebelah timur lapang bola Desa Kedokanbunder, sedangkan para
prajuritnya yang masih hidup enggan pulang ke negeri Campa akan tetapi menyerah
dan mengabdi di Pedukuhan Kedokanbunder sampai akhir ayatnya. Putra Campa yang
bernama Jiau Go kuburannya masih bisa kita lihat di blok lor Cilengkong yang
disebut Petilasan Ki Jago. Akhirnya beliau memerintah padukuhan dan mensyiarkan
Islam dengan penuh kesabaran, Ketawakalan. Hingga pada suatu hari beliau sakit,
makin hari sakitnya semakin bertambah parah, orang-orang pun berdatangan dari
tiap pelosok. Masing-masing ingin tahu sakit yang dideritanya.
Selain daripada
itu mereka mengharapkan doa dan keberkaanya hingga rumah beliau penuh dengan
pengikut- pengikutnya. Pada saat beliau akan meninggal, beliau sempat menyuruh
putra-putrinya mendekati seraya berkata : "Anak isun lan para pengikut
isun kabeh terutama, turutana perintae Gusti Allah Ian perintae Wong tuamu sing
wis lairaken ira Ian gedeaken ira Ian muliaken tamu kang teka ning umae ira lan
ngomonga sing bener, melakua ning tujuan aja nganti keder, dadia menusa aja
dadi uwong.Sebab lamon dadi wong-wongan mung diwedeni ning manuk" (Arti
kata dalam bahsa Indonesia : Khususnya anak saya beserta para pengikutku
semuanya, turutilah perintahnya Allah SWT dan perintah orang tuamu yang telah
melahirkan kamu dan membesarkan kamu dan muliakan tamu yang datang di rumah kamu
dan berbicaralah dengan baik dan benar, berjalanlah pada tujuan jangan sampai
tersesat, jadilah manusia jangan sampai jadi orang-orangan yang hanya ditakuti
oleh burung) Pada tahun 1561 beliau wafat dan tersebarlah berita kemana-mana,
para pengikutnya baik yang dekat maupun yang jauh datang ke Padukuhan
Kedokanbunder dengan penuh rasa duka dan disertai cucuran air mata. Karena
orang yang dicintai telah tiada.
Setiap orang
terus berdatangan menziarahi makam beliau sambil memperlihatkan kecintaan
dengan membacakan puji-pujian dan bacaan-bacaan untuk mendo’akan beliau.
Kesemuanya itu di tunjukkan kepada beliau (Nyi Mas Rata Ayu Kawunganten)
sebagai tanda penghormatan dan mengenang akan keteladanan dan kebijaksanaannya.
Beliau dipanggil sang Kholik pada tahun 1561 dan kepemimpinan pedukuhan juga
syiar Islam ditersukan oleh anak cucu dari keturunannya. Kebiasaan-kebiasan
yang dulu seperti IDER BUMI (Keliling Wilayah), SEDEKAH BUMI (Syukuran) tetap
dilaksanakan tiap tahun hingga sekarang. Dan setelah pedukuhan-pedukuhan lain
ada penghuninya maka pimpinan pedukuhan Kedokanbander mengundang masyarakat
yang ada di pedukuan lain untuk berkunjung ke pedukuan Kedokanbander dalam
rangka untuk ikut IDER BUMI dan sedekah bumi serta doa bersama untuk mendoakan
Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten.
Kedatangan
masyarakat dari pedukuhan lain yang datang berkunjung ke Pedukuhan
Kedokanbunder pada saat itulah disebut Acara NGUNJUNG/UNJUNGAN yang artinya
KUNJUNGAN dan acara adat tersebut masih tetap dilaksanakan serta dilestarian
sampai sekarang. Sumber air yang disebut SUMUR GEDE juga setiap acara UNJUNGAN
rame dikunjungi oleh orang untuk mengambil air dari sumur tersebut sebagai
tumbal tanaman di sawah/ladang dan sebagai penyembuhan penyakit (Allahu Alam).
Atas Ketekunan juru kunci, yang semula Situs Kuburan Nyi Mas Ratu Ayu
Kawunganten berupa gubug ilalang sedikit demi sedikit terus mengalami
pemugaran/perbaikan sampai sekarang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar